Sayang Dihambat Rumitnya Regulasi Negeri Sendiri

Posted on

SURATKABAR.ID – Pada hari Minggu (8/10/2017), Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi) mampir ke kantor pusat perusahaan media milik Dahlan Iskan di Surabaya. Dalam kesempatan sepulangnya Presiden dari Sumenep tersebut, mantan menteri BUMN Dahlan Iskan lantas memamerkan mobil listrik “Selo” kepada Jokowi.

Dikutip dari reportase Kompas.com, Senin (9/10/2017), acara digelar di depan gedung Graha Pena. Mobil sedan sport “Selo” berwarna kuning tersebut diparkirkan dengan mentereng di sana. Turun dari mobil, Jokowi disambut Dahlan Iskan dan langsung melihat dari dekat mobil listrik buatan anak bangsa itu.

Dalam acara formal, Dahlan juga sempat memperkenalkan satu per satu tim perancang mobil listrik yang digagasnya semasa menjadi Menteri BUMN itu kepada Pak Presiden.

Harus Deregulasi

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengapresiasi semua inovasi karya anak bangsa. Namun dia menyayangkan justru karya inovasi tersebut terhambat oleh regulasi yang dibuat oleh bangsa sendiri.

Baca juga: Pengemudi Gojek Ini Terkejut Saat Tahu Penumpangnya Seorang Musisi Terkenal

“Saya yakin, masih banyak karya inovasi anak bangsa. Karena mereka sebenarnya cerdas. Tapi sayangnya dihambat oleh rumitnya regulasi di negeri sendiri,” imbuh Jokowi.

Inilah sebabnya mengapa Jokowi sejak awal kerap menegaskan prinsip deregulasi harus dilakukan agar Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara lain.

Deregulasi sendiri merupakan aturan/sistem (sistem yang mengatur), tindakan atau proses menghilangkan dan mengurangi segala aturan. Meski kerap mengundang pro dan kontra, deregulasi secara keseluruhan (dan bukan selektif) merupakan sesuatu yang baik adanya.

Diseret ke Meja Hijau karena Selo

Lebih lanjut lagi, bagi Dahlan Iskan, mobil listrik justru pernah mengantarnya ke meja hijau. Kasus mobil listrik berawal dari permintaan Kementerian BUMN kepada perusahaan BUMN untuk menjadi sponsor pengadaan 16 mobil listrik pada April 2013 silam.

Mobil listrik ini diadakan untuk mendukung kegiatan operasional Konferensi Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bali pada Oktober 2013. tiga BUMN yang berpartisipasi antara lain yakni PT Pertamina (Persero), PT BRI (Persero) Tbk dan PT PGN.

Mereka mengucurkan dana lebih kurang Rp 32 miliar untuk pengadaan mobil listrik melalui PT Sarimas Ahmadi Pratama. Namun, mobil listrik yang dipesan kemudian tidak dapat digunakan, lantaran tidak sesuai dengan perjanjian.

Baca juga: Catat! Jika Kecelakaan Segera Tagih BPJS dan Jasa Raharja

Namun, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang memutus perkara pengadaan mobil listrik mengungkapkan bahwa mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan tidak terbukti menyebabkan kerugian negara pada Maret 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *