Rizal Ramli Kritik Wacana Penjualan Bandara Soetta, Begini Reaksi Menhub

Posted on

SURATKABAR.ID – Rizal Ramli yang merupakan Mantan Menko Maritim baru saja mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Rizal Ramli menyinggung rencana penjualan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), yang sempat tercetus pada tahun 2002. Ide ini memang sempat diwacanakan di era Presiden Megawati Seokarnoputri, meskipun memang hal itu urung terjadi.

“Setelah bicara dengan keluarga Hatta (Wapres pertama RI), saya umumkan dan jadi headline-headline koran: ‘Silakan jual bagian Soekarno saja, bagian Hatta jangan!’. Akhirnya pemerintah membatalkan rencana penjualan bandara Soekarno-Hatta tersebut,” tutur Rizal Ramli seraya bernostalgia, Minggu (12/11/2017), seperti dilansir RMOl (JawaPos Grup) via JawaPos.com, Senin (13/11/2017).

Rizal Ramli melontarkan hal tersebut bukan tanpa alasan. Pria yang dikabarkan dekat dengan artis Cornelia Agatha ini sepertinya merasa khawatir lantaran wacana melego Bandara Soetta menyeruak lagi di era pemerintahan saat ini.

Ia melanjutkan, Soetta akan dijadikan pilot project yang ideal untuk penerapan skema Limited Concession Scheme (LCS) pertama di Indonesia. Skema ini telah dibahas Kemenko Perekonomian dengan Kementerian Perhubungan.

Baca juga: Terungkap! 3 Alasan Ini Bisa Digunakan KPK Untuk Segera Tahan Setnov

Rizal Ramli berpendapat, sangat disayangkan bila benar adanya, mengingat Soetta adalah asset negara paling menguntungkan.

“Soekarno-Hatta adalah bandara paling menguntungkan, paling cash-rich kok malah mau dijual. Cara berpikir keblinger dan konyol,” tukas mantan menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri era Presiden Abdurrahman Wahid tersebut.

Kabar tak sedap itu telah dikonfirmasikan ke Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan dibantah.

“Menteri Perhubungan Budi Karya WA (WhatsApp) saya bahwa Bandara Soetta tidak akan dijual. Ide-ide lain sedang dibahas,” ungkap Rizal Ramli.

Pendapat Pakar dan Pengamat Transportasi

Seperti diketahui, isu penjualan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) belakangan ini sempat ramai menjadi topik perbincangan publik. Hal ini langsung dibantah oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Sementara itu, pakar transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menanggapi hal tersebut. Ia mengatakan, kemungkinan penjualan bandara itu sangat jauh, bahkan kecil kemungkinan dijual kepada pihak asing.

“Jadi sangat kecil kemungkinan dijual” kata dia kepada wartawan, Minggu (12/11/2017), mengutip JawaPos.com.

Djoko mengungkapkan, sebetulnya pemerintah melakukan bentuk kerjasama pemanfaatan barang milik negara (aset) dan kerjasama operasional dalam jangka waktu tertentu dalam hal ini.

“Jadi tidak ada penjualan aset atau pengalihan aset negara dalam kerjasama tersebut. Yang jelas itu bukan Soetta tetapi Bandara yang dikelola oleh Pemerintah. Agar tidak membebani APBN dan biar mandiri dan lebih profesional pengelolaanya” urai Djoko.

Ia menambahkan, dalam menyikapi isu yang beredar, Kemenhub fokus saja dengan meningkatkan pelayanan-pelayanan terhadap Bandara yang ada di seluruh Indonesia.

“Tidak perlu terlalu ditanggapi atau diklarifikasi, yang penting tingkatkan pelayanan,” tukasnya.

Sedangkan Danang Parikesit yang merupakan Pengamat Transportasi menilai, publik sering kali keliru memahami bahwa kerjasama Pemerintah dengan swasta yang dijual adalah ‘aset’-nya, padahal bukan itu.

“Kerjasamanya itu di konsesinya atau hak pengusahaannya, bukan asetnya. Banyak yang salah pengertian disini,” tandasnya.

Danang melanjutkan, terlebih lagi kadang pemerintah sering kali kurang tepat dalam menyampaikan interpretasi Undang-Undang kepada publik.

“Kalau aset infrastruktur yang dijual, saya kira pemerintah salah menterjemahkan UU” tutur Danang.

Sebelumnya, Rhenald Kasali selaku Komisaris Utama (Komut) Angkasa Pura II menuturkan, isu penjualan sejumlah Bandara Internasional ke pihak asing merupakan informasi bohong.

Salah satu isu yang beredar yaitu Bandara Internasional Soekarno Hatta akan dijual. Sampai saat ini, tidak ada rencana penjualan bandara di Indonesia ke pihak mana pun.

“Tidak ada penjualan, yang benar pihak asing tengah berebut untuk minta kerja sama dengan AP II, karena pertumbuhan penumpang sangat bagus. Ini yang sebenarnya terjadi,” sebut Rhenald di Jakarta, Minggu (12/11/2017).

Rhenald menyayangkan munculnya isu penjualan bandara internasional. Menurutnya, saat ini AP II tidak sedang butuh uang, namun membuka peluang join operation dengan pihak ketiga.

“AP II mencari partner yang bisa memberikan cash di depan kemudian bisa membawa tenaga ahli yang artinya membawa software sehingga bisa meningkatkan pelayanan teknologi,” paparnya.

Baca juga: Hanya Gara-gara Sering Mengompol, Ibu Ini Tega Aniaya Bayinya Hingga Tewas

Rhenald juga menegaskan, kerja sama areal komersial sangat biasa dilakukan di bidang manapun, termasuk di AP II. Misalnya untuk perluasan terminal.

“Bisa disyaratkan dalam kerja sama minimal 51 persen milik kami. Jadi kami yang mengatur,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *