Kisah Pemeran Pierre Tendean yang Benar Disulut Rokok Saat Syuting Film

Posted on
 

SURATKABAR.ID – Memasuki akhir September, tanah air memperingati hari Gerakan 30 September/PKI yang disingkat G30S/PKI. Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau juga kerap disebut Gestok (Gerakan Satu Oktober) ini merupakan sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September hingga awal 1 Oktober 1965, di mana tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta. Untuk memperingati hari bersejarah tersebut, pemutaran film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI kerap ditayangkan kembali.

Dalam film tersebut, Wawan Wanisar menjadi pemeran Kapten Anumerta Pierre A. Tendean. Namun tak banyak yang tahu bahwa dalam proses syutingnya, Wawan benar-benar disulut rokok dan ‘disiksa’ sebagaimana yang sesungguhnya terjadi menimpa Pierre Tendean. Berikut adalah penuturan kisahnya melalui wawancara pada Senin (25/9/2017) lalu, seperti dilansir dari reportase Jawa Pos via JPNN.com, Sabtu (30/9/2017).

Cuaca Jakarta cerah pada siang itu. Di pertengahan 1981, Wawan Wanisar yang tengah bersantai di rumahnya dikejutkan tamu tak dikenal. Tak merasa terkait masalah apa pun, dia heran kenapa sang tamu menyatakan keinginannya untuk mengajak dirinya ke rumah Jenderal Besar TNI (pur) Abdul Haris Nasution.

Sebenarnya Wawan merasa bangga dirinya diundang ke rumah Jenderal Nasution mengingat Wawan memang mengidolakannya. Namun ia tak habis pikir, mengapa undangannya harus mendadak.

Baca juga: Benarkah Bung Karno Pernah Pesan Majalah Playboy Kepada Dubes AS?

”Beliau (Nasution) sosok yang berwibawa. Saya selalu takjub ketika mendengar ceramah beliau ketika menjadi khatib salat Jumat,” kenang Wawan ketika diwawancarai tim wartawan.

Pada awal 1980-an, Wawan tinggal di Jakarta Pusat, tak jauh dari kediaman Nasution di Jalan Teuku Umar. Setelah purnawirawan, AH.Nasution, jenderal yang lolos dari penculikan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 itu, memang menghabiskan banyak waktunya untuk berdakwah.

Esok harinya Wawan memenuhi undangan untuk datang ke rumah Nasution. Di sanalah dia tahu, orang yang mengundangnya ke Jalan Teuku Umar adalah seorang petugas dari Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN), rumah produksi film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Senang bukan kepalang, pria kelahiran 1949 itu bisa sekadar berjabat tangan dengan tokoh idolanya. Jika selama ini ia hanya bisa memandangi wajah Nasution dari jauh, hari itu dia bisa ngobrol dengan sosok murah senyum tersebut sangat dekat.

Casting Kilat

Di rumah Nasution siang itu juga ada Arifin C. Noer. Namun Wawan cuek saja karena belum tahu apa maksud dari kedatangan sutradara kenamaan tersebut di sana.

Di dekat Arifin, hadir Mitze Farre. Dia adalah kakak kandung mendiang Kapten (Anumerta) Pierre Tendean, ajudan Nasution. Tanpa disadari Wawan, Mitze mengamati sosok Wawan. Wajahnya, tubuhnya, dan gerak-geriknya.

Tanpa sepengetahuan Wawan pula, pertemuan siang itu sebenarnya adalah casting kilat untuk menentukan layak atau tidaknya Wawan menjadi salah seorang tokoh utama film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Tak lama setelah perbincangan berjalan, Mitze terlihat membisikkan sesuatu kepada Arifin.

”Dia orangnya…mirip dengan Pierre,” ungkap Wawan menirukan ucapan Mitze kepada Arifin yang mampu didengarnya meski diucapkan sambil berbisik.

Belum hilang kekaguman bertamu Nasution, Wawan diajak ke halaman belakang rumah oleh seseorang yang tidak dikenalnya dalam pertemuan itu.

”Ikut saya sebentar,” ajak orang tersebut kepada Wawan dengan nada tak bersahabat.

Ajakan tak bersahabat itu sudah membuat jengkel Wawan. Namun karena tamu, dia ikut saja. Tapi kemudian kesabaran Wawan habis ketika orang itu memarahinya di halaman belakang rumah Nasution.

”Saya lupa, dia marah soal apa. Yang pasti sangat menyebalkan,” tutur Wawan, lantas tertawa.

Tak terima dimarahi tanpa alasan, Wawan tanpa basa-basi langsung balas membentak. Bukannya membalas bentakan Wawan, pria itu malah berseru kepada Arifin yang ada di ruang tengah.

Oke nih, Mas,” sahut pria yang ternyata adalah asisten sutradara tersebut.

Sejak saat itulah, Arifin memutuskan Wawan menjadi pemeran Pierre Tendean. Bentakan kepada Wawan adalah ujian untuk melihat apakah dia memiliki watak sama dengan sang pahlawan. Sebab, secara fisik, sebagaimana penilaian Mitze, Wawan sudah sangat mirip dengan Pierre.

Hari itu benar-benar penuh berkah bagi Wawan. Bisa bertemu Jenderal Nasution, lalu mendapatkan kepercayaan memerankan pahlawan dalam film yang sangat besar di zamannya tersebut. Apalagi jika mengingat fakta bahwa Wawan bukanlah pekerja seni, dirinya pun bukanlah aktor. Bahwa dia dibidik Arifin, itu berkat rekomendasi Rudi, temannya yang menjadi aktor sebelumnya.

Wawan yang merupakan suami  dari Sri Rohayati tersebut berprofesi sebagai pengusaha. Dia punya bisnis logistik, jasa angkutan, di kawasan Tanjung Priok. Dia sama sekali tak punya pengalaman akting, figuran pun tidak pernah diperankannya.

Perawakan yang gagah, wajah rupawan, dan sifat temperamennya justru malah mengantarkannya menjadi pemeran yang diidamkan banyak aktor top itu.

Meski pada awalnya Wawan sempat ragu, namun akhirnya ia menerima peran sebagai Pierre.

”Saya merasa terpanggil untuk terlibat dalam film sejarah, apalagi yang tentang G 30 S/PKI,” kenangnya.

Sebagai catatan, pada 1966, sewaktu masih SMA, Wawan bergabung dengan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) yang aktif menuntut PKI dibubarkan.

Ikuti Diklat Militer

Sebelum memulai proses syuting, Wawan bersama pemeran lain diwajibkan mengikuti diklat militer selama dua hari. Dalam diklat itu, mereka ”dihajar” instruktur militer.

Karena tuntutan peran, Wawan dkk harus bisa menunjukkan gerakan, sikap, cara bicara, cara berjalan, dan sikap hormat layaknya tentara.

Di syuting pertama, Wawan menjalani pengambilan gambar di rumah Nasution. Yakni, adegan ketika Pierre membaca surat cinta dari kekasihnya, Rukmini.

Syuting dilakukan di kamar yang pernah ditempati Pierre selama bertugas sebagai ajudan Nasution.

Karena belum ada pengalaman akting, Wawan awalnya kaku saat memerankan Pierre. Namun tak dapat dipungkiri, berkat ketelatenan dan tangan dingin Arifin, Wawan bisa lebih cepat belajar.

Arifin juga memberikan hasil risetnya terkait sosok Pierre Tendean kepada Wawan untuk dipelajari.

Disiksa Sungguhan Saat Syuting

Selain syuting di rumah Nasution, Wawan mengikuti syuting adegan penculikan dan penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya.

Syuting dilakukan di sebuah kebun karet di Kranggan, Jakarta Timur. Lokasinya mirip dengan kawasan Lubang Buaya. Syuting dilakukan saat subuh lantaran tragedi keji itu terjadi di malam hari.

”Saya baru pertama menjadi aktor. Karena itu, saya harus menutupi kelemahan saya dengan bekerja sepenuh hati,” tandasnya.

Guna menghasilkan ekspresi yang mendekati kenyataan, Wawan rela disiksa sungguhan. Salah satunya sewaktu dia memerankan adegan Pierre diikat di tiang dan dipukul dengan senjata.

Saat itu wawan benar-benar dipukul dengan popor bedil. Meski, popornya dilapisi bantalan karet hitam. ”Lumayan sakit juga,” imbuhnya.

Tak hanya itu. Saat adegan tangan Pierre disundut rokok, tangan Wawan juga benar-benar disulut rokok. Panas dan perih dirasakan di bagian pergelangan tangan. Hasilnya, ekspresi dan akting kesakitan benar-benar muncul.

Menurut Wawan, saat pengambilan gambar, Arifin mampu menciptakan suasana tegang dan menyayat hati lewat arahannya yang detail.

Satu adegan bisa disyuting berkali-kali demi mendapatkan shot yang sempurna. Arifin juga piawai mengarahkan ekspresi para pemeran agar lebih natural.

”Dia pokoknya jago banget mengarahkan saya dan pemeran lain yang rata-rata orang awam alias bukan aktor,” urai Wawan.

Wawan senang kini film Pengkhianatan G 30 S/PKI diputar kembali di layar kaca. Begitu sulitnya casting untuk film ini, bahkan dikabarkan aktor senior sekelas Rano Karno pun pernah ditolak untuk memerankan Pierre Tendean. Alasannya karena wajah Pierre Tendean tidak bertahi lalat, sedangkan Rano Karno punya.

”Kalau bisa diputar 3,5 jam utuh tanpa dipotong sehingga anak-anak sekarang dapat gambaran penuhnya,” demikian ayah enam anak itu mengungkapkan harapannya.

Baca juga: Anak Venna Melinda Kecelakaan Hingga Mobilnya Hancur, Bagaimana Keadaannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *