Ganas! Aksi Teroris Kulit Putih di Amerika Kian Merajalela, Sampai Segini Jumlah Korbannya

Posted on

SURATKABAR.ID – Pada Senin (2/10/2017), Steven Paddock (64), warga asal Nevada, menembaki 22.000 penonton konser di Las Vegas Strip dari kamarnya di lantai 32 Mandala Bay Resort dan Casino. Dengan menggunakan beberapa senjata otomatis laras panjang, sedikitnya 59 orang tewas dan 527 lainnya luka ringan hingga luka berat. Insiden berdarah tersebut terjadi pada dini hari waktu setempat. Padahal sebelumnya, pertunjukan terakhir festival musik country Route 91 yang digelar tiga hari sebelumnya berjalan lancar hingga Paddock merajalela menggencarkan serangannya.

Saat itu, ribuan orang tengah menikmati pertunjukan oleh penyanyi top Jason Aldean bergegas mencari perlindungan. Mereka berlarian hingga menjatuhkan diri ke tanah. Mereka bergegas keluar arena konser dan membantu orang lain untuk melarikan diri saat Paddock memberondong lokasi itu dengan gencatan senjata dari tempat yang lebih tinggi.

Insiden ini menjadi tragedi penembakan massal terburuk dalam sejarah Negeri Paman Sam. Paddock sendiri kemudian bunuh diri saat polisi menyerbu ruangannya. Pihak berwajib menemukan 10 pucuk senjata. Hingga saat ini, mereka masih menyelidiki motif pelaku. Namun Agen FBI, Aaron Rouse memastikan sejauh ini tindakan Paddock tak ada kaitannya dengan organisasi teroris internasional. Demikian sebagaimana dilansir dari laporan Tirto.ID, Kamis (5/10/2017).

Sejauh ini, 73 persen dari 85 kasus teror berujung kematian di AS (2001-2016) didalangi oleh ekstremis kulit putih. Dan untuk tragedi Paddock ini, netizen seantero dunia kecewa mengapa mayoritas media tak melabeli Stephen Paddock sebagai teroris. Seperti diketahui, para pelaku aksi-aksi terorisme di AS sejak 1,5 dekade silam didominasi oleh warga asli kulit putih—bukan muslim, bukan pendatang.

Baca juga: Kenapa Pembantaian di Las Vegas Tidak Disebut Terorisme?

Ketika Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang telah direvisi untuk melarang orang-orang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim masuk ke Amerika Serikat, ia mengklaim kebijakan tersebut untuk melindungi rakyatnya dari “teroris Islam radikal”.

Namun, fakta justru membuktikan sebaliknya. Sejak delapan bulan Trump berkantor di Gedung Putih, warga AS justru lebih banyak dibunuh oleh teroris kulit putih—jajaran teroris yang tak ada kaitannya dengan Islam atau imigran Timur Tengah.

Paddock berkulit putih, dan media serta otoritas setempat tak menyebutnya sebagai “teroris” meski jelas-jelas pria itu telah melakukan tindakan teror. Warganet internasional pun marah mengingat pelabelan oleh media dan pejabat setempat dianggap terlalu bias.

Paddock disebut “pelaku yang barangkali punya gangguan jiwa”, “kriminal lone wolf”, dan lain sebagainya. Sedangkan jika pelakunya non-kulit putih plus Muslim, maka media akan segera melabelinya dengan istilah “teroris”. Cukup kontras.

Pelaku Teror di AS Justru Berasal dari Ras Kulit Putih

Otomatis kasus ini membuka kembali ingatan publik atas beragam aksi terorisme serupa yang terjadi beberapa tahun belakangan di mana pelakunya adalah warga AS kulit putih. Militan yang terhubung dengan ISIS memang telah meneror warga Inggris, Perancis, hingga Kanada. Namun di AS, berkebalikan dengan omongan Trump, teror justru berasal dari pihak-pihak yang tak ada hubungannya dengan agama secara umum atau Islam secara khusus, dan juga bukan dari kalangan imigran.

Pada Agustus kemarin James Alex Fields Jr (20), seorang pengikut gerakan Alt-Right atau supremasi kulit putih dari organisasi Vanguard America, menabrakkan mobil Dodge Challenger-nya ke tengah ratusan massa aksi anti-rasis dan anti-fasis di Kota Charlottesville, Virginia. Kerusuhan tersebut menyebabkan 3 orang tewas dan 35 orang luka-luka. Fields diamankan kepolisian dan didakwa dengan pembunuhan tingkat satu.

Sebelumnya, di bulan Maret, pria kulit putih berusia 28 tahun bernama James Jackson melakukan perjalanan dari Baltimore ke Kota New York dengan niat membunuh orang kulit hitam sebanyak-banyaknya. Bermodalkan sebilah pisau, ia kemudian menemukan korbannya: Timothy Caughman (66) yang kebetulan sedang mengumpulkan kaleng dan botol bekas untuk didaur ulang di Ninth Avenue. Timothy ditusuk sampai mati dan didakwa melakukan terorisme oleh otoritas New York, demikian menurut laporan The Guardian.

Sedangkan pada bulan Mei, pria kulit putih Jeremy Joseph Christian (35) menikam Taliesin Myrddin Namkai-Meche dan Ricky John Best di sebuah kereta pada Jumat (26/5/2017) di Portland hingga keduanya tewas. Sebelumnya, Jeremy mengintimidasi dua perempuan muslim di kereta. Taliesin, Ricky, dan seorang lain berusaha melindungi kedua perempuan itu, namun Jeremy berbalik menyerang dengan bermodalkan sebuah pisau. Saat mengintimidasi, Jeremy berteriak “Kita butuh orang Amerika asli di sini!”, “Semua Muslim seharusnya mati saja”, di samping ujaran kebencian lainnya.

Statistik Teror oleh Penganut Supremasi Kulit Putih 

Angka statistik juga tak bisa bohong. Faktanya, dalam laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS yang dipublikasikan pada April 2017, tercatat ada 85 kasus teror di AS yang berujung 225 kematian sepanjang periode 12 September 2001 (pasca tragedi 9/11) hingga 31 Desember 2016. Dari 85 kasus, 62 kasus (73%) di antaranya ternyata dilakukan oleh ekstremis sayap kanan atau penganut supremasi kulit putih, sementara sisanya yang 23 (27%) dilakoni oleh para ekstremis muslim.

Temuan versi Investigative Fund yang dicatat Huffington Post menyatakan hasil yang serupa. Dari total 201 kasus teror di AS sepanjang 2008-2016, ada 115 kasus di antaranya, atau yang terbanyak, didalangi oleh ekstremis kulit putih. Ekstremis Islam berada di tempat kedua dengan catatan 63 kasus, sementara 19 kasus dilakoni oleh ekstremis sayap kiri. Sisanya dari kalangan faksi lain atau tak terafiliasi dengan faksi tertentu.

Akademisi Westfield State University, George Michael, telah bertahun-tahun memfokuskan studinya pada terorisme milisi Islam dan sayap kanan. Dalam bukunya Confronting Right-Wing Extremism and Terrorism in the USA (2003), George menuturkan bahwa terorisme sayap kanan punya sejarah panjang di AS. Mereka berkembang terutama setelah kekuatan kiri di AS menurun, dan selalu mengekor politisi yang punya visi rasisme serupa.

Pada era 1980-an, lebih dari 75 ekstremis sayap kanan dan penganut supremasi kulit putih yang ditangkap di AS untuk enam aksi penyerangan. Pada tahun 1983, Gordon Kahl, anggota organisasi supremasi kulit putih Posse Comitatus, membunuh dua anggota polisi federal. Di tahun yang sama, kelompok revolusioner faksi nasionalis kulit putih The Order merampok bank dan membom sebuah teater, sinagoga, dan membunuh pengisi acara radio, Alan Berg.

Di sepanjang 1990-an, kasus-kasus serupa juga marak terjadi. Bahkan lebih berdarah lagi. Pada April 1995 terjadi serangan di Oklahoma oleh dua orang ekstremis kulit putih, Timothy McVeigh dan Terry Nichols yang merenggut nyawa 168 orang. Keduanya diduga melaksanakan balas dendam terhadap dua aksi aparat keamanan AS di Ruby Ridge dan Waco dan meningkatkan sentimen anti-pemerintah. Kejadian ini dinyatakan sebagai kasus terorisme domestik paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Ada juga Eric Rudolph yang melakukan serangkaian aksi teror pada tahun 1996-1998. Ia melakukan pemboman Contennial Olympic Park pada 1996 karena dianggap mempropagandakan sosialisme global dan mempermalukan pemerintah AS. Kejadiannya yang menyeret nyawa dua orang dan melukai 100-an lainnya. Ia lalu mengebom klinik aborsi di Atlanta pada 1997, bar lesbian, dan tempat lain sehingga mengakibatkan dua orang lain meninggal serta banyak lainnya terluka. Pada akhirnya, ia bisa diamankan oleh aparat kepolisian yang saat itu dinilai terlalu lambat dalam mencari jejak Eric.

Fenomena Kepemilikan Senjata Api

Kekuasaan Trump tak bisa dilepaskan dengan naiknya pamor kaum pemuja supremasi kulit putih, neo-Nazi, nasionalis sayap kanan, hingga kelompok anti-LGBT dan anti-imigran di AS.  Situs yang didedikasikan untuk melawan kebencian antar kelompok di AS,

Soutern Poverty Law Center, mencatat gelombang kebencian dan intimidasi yang melibatkan kekerasan fisik dan aksi terorisme tersebut terjadi sebanyak 1.094 kasus selama satu bulan pertama dalam pemerintahan Trump.

Kasus penembakan di Las Vegas juga memunculkan wacana pengetatan bahkan penghapusan aturan kepemilikan senjata api di AS. Kepemilikan senjata api oleh warga negara di AS dilindungi lewat Amandemen Kedua Konstitusi AS tahun 1971. Akibat kebijakan ini, menurut Small Arms Survey tahun 2007, AS menjadi negara dengan orang sipil bersenjata paling banyak di dunia. Setidaknya setiap 100 orang, 88,8 persen di antaranya memiliki senjata api.

Salah satu alasan memiliki senjata api bagi warga AS yaitu agar kejahatan dapat dicegah, terutama oleh serangan teroris. Namyn yang menarik, sepanjang 2005-2015, sebanyak 71 warga negara Amerika terbunuh oleh teroris di negaranya, tetapi 301.787 terbunuh karena senjata api dalam periode yang sama. Tingkat kekerasan yang berkaitan dengan senjata api di Amerika Serikat merupakan yang paling tinggi di dunia. Sebuah fenomena yang tak ditemui di negara-negara maju lainnya.

Senjata untuk perlindungan diri adalah alasan yang telah dipatahkan oleh data statistik. Namun warga AS masih saja berpikir jika punya senjata, atau semakin banyak punya senjata, maka akan semakin aman dari aksi terorisme. Hal ini dibuktikan dengan naiknya penjualan senjata api pasca terjadi tragedi penembakan massal. Meski tak mudah dinalar oleh akal sehat, namun fenomena ini benar-benar terjadi di AS.

Baca juga: Tegas! Mantan Panglima TNI: Prajurit Tak Seharusnya Sempat Pikirkan Politik

Sehari setelah insiden penembakan di Las Vegas, saham perusahaan pembuat senjata seperti Sturm, Ruger & Co dan Smith & Wesson naik hingga 3 persen lebih. American Outdoor Brands naik hingga 5 persen, sementara Vista Outdoor naik 2 persen. Seperti yang diwartakan dalam Fortune, para investor juga berbondong-bondong membeli saham perusahaan pembuat senjata api AS. Kondisi yang sama juga terjadi setelah tragedi penembakan di kelab malam gay di Orlando maupun pasca aksi teror Dylann Roof di Columbia beberapa waktu lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *