Esemka Pudar, Kini Muncul Kiat Mahesa Nusantara

Posted on
Cuplikan dalam program Aiman di Kompas TV yang tayang pada Senin (25/9/2017), menampilkan kendaraan pedesaan buatan anak negeri Kiat Mahesa Nusantara.Febri Ardani/Otomania.com Cuplikan dalam program Aiman di Kompas TV yang tayang pada Senin (25/9/2017), menampilkan kendaraan pedesaan buatan anak negeri Kiat Mahesa Nusantara.
Jakarta, Otomania.com – Harum mobil yang dikatakan sepenuhnya buatan bangsa Indonesia, Esemka, sudah pudar. Namun dari balik kabut tebal yang menyelimuti pengembangan otomotif oleh tangan anak negeri muncul sinar baru, yaitu kendaraan pedesaan Kiat Mahesa Nusantara.

Mahesa merupakan kendaraan pedesaan yang dibuat untuk membantu petani bekerja lebih baik. Pencetusnya adalah orang yang sama mempelopori Esemka, yaitu Sukiyat (60).

Sukiyat, pelopor mobil Kiat Esemka.FERGANATA INDRA RIATMOKO Sukiyat, pelopor mobil Kiat Esemka.

Nama Mahesa tiba-tiba jadi buah bibir media setelah bengkel perakitannya, Kiat Motor, di Klaten, Jawa Tengah, dikunjungi Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) pada pekan lalu. Bengkel itu pernah berkaitan dengan mobil Esemka yang dipakai Jokowi saat menjadi Walikota Solo periode 2005-2012.

Dalam program Aiman di Kompas TV yang tayang pada Senin (25/9/2017), Sukiyat mengatakan berbeda seperti Esemka yang dirancang dengan bantuan para Kepala Sekolah SMK di Pulau Jawa, pengembangan Mahesa didukung para tokoh otomotif Indonesia. Sukiyat membangun Mahesa dengan rencana lebih baik, belajar dari melintasi jalur berkelok pengembangan Esemka.

Baca: Arti kata Mahesa Nusantara

Cuplikan dalam program Aiman di Kompas TV yang tayang pada Senin (25/9/2017), menampilkan kendaraan pedesaan buatan anak negeri Kiat Mahesa Nusantara.Febri Ardani/Otomania.com Cuplikan dalam program Aiman di Kompas TV yang tayang pada Senin (25/9/2017), menampilkan kendaraan pedesaan buatan anak negeri Kiat Mahesa Nusantara.

Ada tiga model Mahesa, yaitu kabin ganda, pikap kabin tunggal, dan pikap kabin tunggal dek rata dengan Power Take Off (PTO) untuk pengerjaan peralatan pertanian. Semua model bermesin diesel 1-silinder 650cc yang meneguk bahan bakar solar.

Rencananya, harga masing-masing model itu tidak lebih dari Rp 70 juta. Harga itu belum termasuk pajak-pajak yang akan membebaninya nanti.

“Esemka tidak gagal, tapi memang untuk produksi tidak semudah itu. Segmennya, kalau dulu (Esemka) melawan, di luar itu kan banyak, ada (merek dari) Korea, Jepang. Kalau ini (Mahesa) kan segmennya untuk di desa,” ucap Sukiyat saat diwawancarai Aiman Witjaksono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *